septiana indah nugraheni

septiana indah nugraheni
septiana indah nugraheni _ 6 September 1996 _

Selasa, 10 Maret 2015

kebiasaan aneh ku

dalam malam aku lebih senang duduk di balkon rumah dan menikmati langit pada malam hari, membayangkan hal - hal yang ku inginkan dan begitu indah. entah mengapa aku begitu senang dengan suasana malamhari dan udara malam yang dingin, aku merasa begitu tenang dan dapat berfikir secara jernih. begitu banyak hal yang dapt ku fikirkan dalam satu malam, meskipun begitu aku tidak merasa lelah aka hal ini akan tetapi malah sebaliknya kau merasa mendapatkan kekuatan, semangat dari hal tersebut.
                suatu malam aku begitu suntuk dalam kamar yang ku tempati, aku merasa ingin keluar dan melakukan kebiasaan yang sering ku lakukan duduk ataupun berdiri di balkon rumah namun sayang sekali hujan yang lebat dan angin yang sangat hebat sedang terjadi di luar sana. ya apa boleh buat aku hanya dapat membuka jendela dan merasakan angin malam yang begitu dingin di balik jendel akamarku.
                mungkin banyak orang mengira bahwa kebiasaan ini tidak baik, tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah menjadi bagian hidupku, angin malam bukan lagi musuh ataupun hal yang harus di hindari tapi sebaliknya angin malam adalah sahabatku yang seolah dia adalah nafas hidupku bahkan menjdi narkoba dalam diriku yang membuat ku tak pernah bisa berhenti dan selalu merindukan untuk berada di tengah malam dan berselimutkan dengan angin malam yang berhembus perlahan mengenai kulit dan menenagkan jiwaku.

                hahaha mungkin ini cerita ku tentang kebiasaan yang mungkin bisa dibilang agak aneh.. salam sahabat... :)

Senin, 02 Maret 2015

APA YANG AKU TAKUTKAN ??


                Dahulu, aku selalu hidup dalam ketakutan. Ketakutan kehidupan apa yangbaku miliki atau tidak dapat mencapai suatu yang aku inginkan. misalnya saja "bagaimana jika rambut ku rontok?" ,
 "bagaimana jika aki tidak memiliki rumah yang besar?" ,
 "bagaimana jika berat badan ku bertambah?, maka badanku akan menjadi jelek!" ,
"bagaimana jika aku kehilangan pekerjaan?" ,
"apa yang terjadi jika aku menjadi tua dan lemah, sehingga tak dapat berbuat sesuatu untuk orang - orang di sekitar?"
                Aku takut akan semua itu. tetapi sekarang dengan memperhatikan kehidupan dan mempelajarinya, aku telah mengetahui semua jawabannya.
                kalau rambutkku rontok, aku dapat menjadi wanita botak yang paling bahagia, karena kepalaku masih dapat menghasilkan ide, meski tidak lagi menumbuhkan rambut.
                Sesungguhnya rumah mewah tidak dapat membahagiakan manusia, karena sebuah hati yang sedih tidak merasa senang meski berada di dalam istana. hanya hati yang gembira yang akan menjadikan rumah bagaimanapun bentuknya menjadi indah dan ceria.
                Kalau aku tidak dapat bekerja untuk mencari upah, maka aku akan bekerja semata-mata untuk Tuhan, karena upah yang Dia berikan jauh lebih banyak dan tidak dapat ditandingi.
                 Kalau aku sedah renta dan memiliki kondisi fisik yang lemah, aku bisa memberikan kekuatan daya pikir, kejujuran cinta, dan kemampuan jiwaku dalam menangggung kesulitan hidup kepada orang yang di sekelilingku.
                Aku takut dengan berbagai kerugian atau mimpi yang tidak tercapai. aku akan menghadapi semua tantangan dengan tekad bulat dan semangat membaja. Tuhan telah membarikan banyak sukacita kepadaku, seandainya aku kehilangan salah satu aku masih memiliki sepuluh yang lainnya. justru jika jalan hidupku mudah dan tanpa rintangan, aku tidak akan bisa menjaga dan mengembangkan sukacita tersebut.

                Untuk itu seandainya aku tidak dapat berdansa aku akan bernyanyi dengan gembira, seandainya aku tidak mampu bernyanyi, aku akan bersiul dengan suka cita, dan seandainya napasku lemah dan putus-putus, aku akan mendengarkan dengan seksama, dan hatiku akan berbicara dengan penuh cinta. ketika fajar mulai menyingsing, aku akan berdoa dengan khusyuk, sampai aku tidak dapat melakukannya lagi, karena tiba waktuku untuk menghadap Tuhan. Jadi, apa yang aku takutkan??
by: Septiana Indah Nugraheni